Jumat, 25 Maret 2011

Biji Sesawi Pengusir Kesedihan

Ada sebuah cerita Cina kuno tentang wanita yang begitu sedih karena anaknya meninggal dunia. Dalam dukanya, dia mendatang seorang bijaksana, “Doa seperti apa, adakah yang bisa dilakukan untuk membuat anak saya hidup kembali?”

Alih-alih mengusirnya atau memberinya pengertian, orang tersebut berkata kepada wanita itu, “Mintalah biji sesawi dari sebuah rumah yang belum pernah merasakan kesedihan. Kita akan gunakannya untuk mengusir kesedihan itu dari kehidupanmu.”

Mendengar permintaan orang bijak itu, wanita itu segera pergi mencari biji sesawi ajaib itu.

Yang pertama kali di kunjunginya adalah sebuah rumah yang indah, ia mengetuk pintu itu dan berkata, “Saya mencari sebuah rumahyang belum pernah mengalami kesedihan. Apakah rumah ini seperti itu? Tolonglah, hal ini sangat penting bagi saya.”

Mereka berkata, “Anda pasti datang ketempat yang salah,” lalu pemilik rumah itu mulai menjelaskan semua hal tragis yag baru-baru ini mereka alami.

Wanita itu berkata kepada dirinya sendiri, “Siapakah yang dapat membantu orang malang ini, orang yang mengalami kemalangan seperti saya. Sedangkan saya sendiri juga memiliki kesusahan sendiri.”

Wanita itu kemudian tinggal sebentar untuk menghibur si pemilik rumah yang indah itu, lalu melanjutkan pencariannya. Dari satu rumah ke rumah yang lainnya, ia selalu menemui kesedihan. Mulai dari gubuk-gubung reyot hingga rumah yang indah, semuanya memiliki kisah kemalangannya sendiri-sendiri. Setiap kali ia mengetuk pintu dan mengdengar cerita sedih, ia tidak bisa tidak memberikan penghiburan dan akhirnya lupa untuk mencari biji sesawi ajaibnya. Apa yang ia lakukan dari satu rumah ke rumahyang lain, lambat laun mengusir kesedihannya keluar dari hidupnya.

Tidak seorangpun yang tidak pernah mengalami kemalangan, kesedihan dan duka. Untuk itu sangat tidak tepat jika kita berpikir bahwa diri kita adalah orang yang paling malang di dunia. Bangkitlah dari kesedihan Anda, dan mulailah lihat ke sekeliling Anda. Berikan bantuan, nasihat dan penghiburan kepada orang lain yang juga memiliki kesedihan dan kemalangan. Dengan cara ini, Anda akan menyembuhkan kesedihan Anda.

Apel dan Tuhan



Beberapa tahun lalu sebuah grup salesman menghadiri sebuah konfrensi di Chicago. Mereka telah berjanji kepada istri masing-masing akan tiba di rumah pada hari Jumat malam untuk makan malam bersama. Hal ini membuat mereka terburu-buru mengejar pesawat mereka sambil membawa koper-kopernya. Namun saat menuju tempat boarding pass tanpa sengaja salah seorang salesman itu menyenggol sekotak apel yang dijajakan. Apel-apel itu berhamburan kemana-mana. Namun para salesman itu tetap bergegas mengejar pesawat mereka, karena jika tidak maka mereka akan terlambat.

Tapi satu orang diantara mereka berhenti. Dia berhenti sejenak dan mengambil nafas dalam-dalam, dia mencoba mendengarkan suara hatinya, dan ia merasakan belas kasihan pada gadis yang menjual apel-apel itu. Dia segera memberitahu teman-temannya untuk berangkat tanpa dirinya, dia meminta salah satu dari mereka untuk menghubungi istrinya bahwa ia akan terlambat pulang. Pria itu kemudian kembali ke terminal dimana apel-apel tadi berhamburan ke lantai.

Pria itu bersyukur telah membuat keputusan yang benar. Gadis penjual apel itu ternyata buta! Gadis itu menangis, dan rasa frustasi terlihat jelas diwajahnya. Dia mencoba meraba-raba mencari apel-apelnya. Ia berseru meminta pertolongan untuk mengumpulkan barang dagangannya, namun tidak seorang pun yang peduli.

Salesman itu berlutut memunguti apel itu bersama gadis itu, setelah mengumpulkannya, ia membantu menatanya kembali di meja. Saat ia melihat banyak diantara apel itu yang rusak, ia memisahkannya. Saat telah selesai, ia berkata kepada gadis itu, “Ini uang 40 dolar, tolong ambil ini untuk mengganti kerusakan yang terjadi. Apakah kamu baik-baik saja?”

Gadis itu menghapus air matanya.

Pria itu kemudian berkata, “Aku harap apa yang kami lakukan tidak merusak harimu sedemikian buruk.”

Ketika pria itu hendak pergi meninggalkan gadis buta itu, gadis itu memanggilnya kembali.

”Tuan..” Pria itu berbalik menatap gadis itu.

”Apakah engkau Tuhan?” tanya gadis itu.

Pria itu hanya tertegun dan tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Berlahan dia pergi kearah penjual tiket untuk pulang kerumahnya dengan pesawat selanjutnya. Namun pertanyaan gadis itu terus terdengar di telinganya, “Apakah engkau Tuhan?”