Kamis, 07 April 2011

Belajar Sepanjang Hayat

Lu Pingkung adalah seorang raja, dia adalah seorang raja yang pintar dan adil. Ketika dia berusia 70 tahun, dia masih berkeinginan belajar lebih banyak lagi, untuk menambah pengetahuannya.

Lu Pingkung merasa pengetahuan yang dimilikinya masih sangat minim. Tetapi seorang yang berumur 70 tahun ingin belajar lagi, kesulitannya semakin banyak, Lu Pingkung merasa tidak percaya diri, dia lalu pergi meminta nasehat kepada seorang menterinya yang pintar.

Menterinya ini adalah seorang tua yang buta, tetapi dia adalah seorang cendekiawan, walaupun matanya buta, tetapi hati sanubarinya sangat terang.

Lu Pingkung bertanya kepada menterinya ini, ”Coba engkau lihat, saya sudah berumur 70 tahun, sudah cukup tua, tetapi saya masih sangat ingin belajar lebih banyak ilmu, supaya dapat menambah lebih banyak pengetahuan, tetapi selalu merasa kurang percaya diri, selalu merasa sudah terlambat?”

Menteri ini menjawab, ”Paduka merasa terlambat? Lalu kenapa tidak menyalakan lilin?”

Lu Pingkung tidak mengerti maksud dari menteri ini, lalu berkata, ”Saya berbicara serius denganmu, kenapa engkau bercanda? Mana ada seorang menteri yang mempermainkan rajanya?”

Mendengar perkataan rajanya, menteri ini merasa gembira lalu berkata, ”Paduka, engkau salah paham,saya adalah seorang menteri tua yang buta, mana berani mempermainkan Paduka? Mengenai hal belajar lagi saya juga berkata serius kepada Paduka.”

Lu Pingkung dengan bingung berkata, ”Saya tidak mengerti apa maksudmu?”

Menteri berkata, ”Menurut yang saya pelajari, ketika manusia pada masa kecil mempunyai keinginan belajar, bagaikan mendapat sinar mentari pagi yang sangat lembut, sinar mentari makin lama makinterang, waktu bersinarnya juga sangat panjang.

Ketika manusia pada masa remaja mempunyai keinginan untuk belajar, bagaikan mendapat sinar mentari disiang hari, walaupun sinar mentari di siang hari sudah menyinari setengah hari, tetapi sinarnya sangat terik, waktunya bersinar juga masih panjang.

Sedangkan manusia pada masa tuanya mempunyai keinginan untuk belajar, walaupun matahari sudah tenggelam, tidak ada sinar terang lagi, tetapi masih bisa meminjam cahaya lilin untuk menerangi, walaupun cahaya lilin tidak begitu terang, tetapi dengan sedikit cahaya ini lebih bagus daripada meraba-raba ditempat yang gelap.

Lu Pingkung segera tersadarkan, dengan gembira dia berkata, ”Perkataanmu sangat benar, Memang harus demikian! Sekarang saya merasa percaya diri lagi.”

Jika tidak ingin belajar, walaupun membuka mata dengan lebar disiang bolong, sepasang mata ini akan kehilangan, sangat gelap; Dengan terus belajar, tidak peduli muda maupun tua, lebih banyak pengetahuan sanubari akan semakin terang, dengan demikian dapat dengan tidak membabi butamengambil keputusan dalam menghadapi masalah sehingga hidup ini tidak menjadi sia-sia. 

Kesombongan Awal Kejatuhan

Di tepi hutan, berdiri sebuah pohon besar. Cabang-cabangnya menyebar keluar dengan anggun dan begitu juga akar-akarnya. Banyak orang berlindung dari matahari di bawah rindang daun-daunnya, dan ia juga memberikan perlindungan bagi banyak burung dan makhluk kecil lainnya di cabang-cabangnya. Mereka berkicau dalam aktivitasnya sepanjang waktu. 

Di kaki pohon tersebut tumbuh tanaman kecil. Tanaman itu langsing dan halus, dan cenderung terbalik jika disentuh angin meski hanya angin lembut sekalipun. Suatu hari, kedua tetangga tersebut mempunyai sedikit obrolan.



"Tetangga kecil," kata pohon ke tanaman tersebut, "Kenapa kamu tidak menanamkan kaki dalam-dalam di dalam tanah, dan menegakan kepala di udara dengan kuat seperti yang aku lakukan?" 

"Saya pikir tidak perlu untuk melakukannya," bisik tanaman kecil dengan tersenyum. "Sebenarnya, saya pikir mungkin saya lebih aman dengan cara seperti ini." 

"Lebih aman!" kata pohon besar dengan nada mengejek. "Apakah kamu sedang mengatakan bahwa kamu lebihaman daripada aku? Apakah kamu tahu seberapa dalam akar aku tanamkan, seberapa tebal dan kuat batangku? Bahkan jika dua orang memegang tangan mereka tidak akan mampu mengelilingi batangku. Siapa yang mungkin bisa mencabutku dari akarku atau menundukkan kepalaku ke tanah?" 

Dan pohon itu berpaling dari tanaman dengan sangat gusar. Tapi pohon itu dengan segera menyesali kata-katanya.

Suatu malam muncul badai besar di wilayah tersebut. Badai tersebut mencabut pohon dari akarnya dan hampir sepenuhnya menghancurkan hutan. Ia menumbangkan pohon-pohon dan melemparkannya jauh-jauh dengan kuat.

Ketika badai telah berlalu, para penduduk desa yang tinggal di hutan mengamati kerusakan. Pohon-pohon yang kuat, yang dulu pernah hampir menyentuh langit, kini berkurang menjadi puntung pohon atau bahkan lebih buruk. Hutan itu dipenuhi dengan bangkai mereka.

Tetapi ada satu pengecualian, yaitu si Tanaman kecil. Tanaman kecil tersebut telah berguling-guling di bawah kemarahan para badai, dan membungkuk sepenuhnya. Tetapi ketika badai berakhir, ia menghela napas dan berdiri tegak lagi. Tidak ada jejak yang tersisa dari tetangganya yang kuat.