Rabu, 14 September 2011

Legenda Gunung Batu Hapu


Tidak berapa jauh dari kota Rantau, ibu kota Kabupaten Tapin Propinsi Kalimantan Selatan terdapat dua desa bernama Tambarangan dan Lawahan. Menurut cerita orang tua-tua, dahulu kala di perbatasan kedua desa itu hiduplah seorang janda miskin bersama putranya. Nama janda itu Nini Kudampai, sedangkan nama putranya Angui.
Mereka tidak mempunyai keluarga dekat sehingga tidak ada yang membantu meringankan beban anak beranak itu. Walaupun demikian, Nini Kudampai tidak pernah mengeluh. Ia bekerja sekuat tenaga agar kehidupannya dengan anaknya terpenuhi.
Saat itu, Angui masih kecil sehingga ia masih senang bermain, belum ada kesadaran untuk menolong ibunya bekerja. Angui tidak mempunyai teman sebaya sebagai teman bermain. Sebagai gantinya, ia ditemani tiga ekor hewan kesayangannya, yaitu ayam jantan putih, babi putih, dan seekor anjing yang juga putih bulunya. Ke mana pun ia pergi, ketiga ekor hewan kesayangan itu selalu menyertainya. Mereka tampak sangat akrab.
Pada suatu hari, ketika Angui sedang bermain di halaman rumah, melintaslah seorang saudagar Keling. Saudagar itu amat tertarik kepada Angui setelah menatap Angui yang sedang bermain. Ia berdiri tidak begitu jauh dari tempat Angui bermain. Angui terus diamatinya. Dari hasil pengamatan itu, ia mendapatkan sesuatu yang menonjol pada penampilan Angui. Air muka Angui selalu jernih dan cerah. Ubun-ubunnya kelihatan berlembah. Dahinya lebar dan lurus. Jari-jarinya panjang dan runcing ke ujung. Di ujung-ujung jari itu terdapat kuku laki yang bagus bentuknya. Satu hal yang memikat adalah adanya tahi lalat yang dimiliki Angui. Tahi lalat seperti itu dinamakan kumbang bernaung.
Saudagar Keling mendapat firasat bahwa tanda-tanda fisik yang dimiliki Angui menunjukkan nasib balk atau keberuntungannya. Barang siapa memelihara anak itu akan bernasib mujur.
“Aku harus mendapatkan anak itu,” katanya dalam hati. Tanpa menyia-nyiakan waktu, saudagar itu segera menemui Nini Kudampai, sang ibu. Dengan keramahan dan kefasihan lidahnya berbicara selain janji-janji yang disampaikan, ia dapat menaklukkan hati Nini Kudampai. Nini Kudampai tidak keberatan jika Angui diasuh dan dipelihara saudagar itu. Angui pun amat tertarik untuk mengikuti saudagar itu pulang ke negerinya.
“Anak lbu tidak akan hilang,” kata saudagar itu meyakinkan. “Percayalah Bu, suatu saat kelak ia pasti kembali menemui ibunya, bukan sebagai Angui yang sekarang ini, tetapi sebagai orang ternama.”
Walaupun Nini Kudampai telah merelakan kepergian anaknya, ia tidak dapat menyembunyikan rasa harunya ketika akan berpisah. Kesedihan dan keharuan kian bertambah ketika Angui meminta agar ketiga hewan teman bermainnya selama ini dipelihara sebaik-baiknya oleh ibunya.
“Bu, tolong Ibu jaga babi putih, anjing putih, dan ayam putihku. Jangan Ibu sia-siakan!” kata Angui sambil mencium tangan ibunya dengan linangan air mata.
Saudagar Keling pulang ke negerinya dan tiba dengan selamat bersama Angui. Angui diasuh dan dipeliharanya, tak ubahnya memelihara anak kandung. Angui hidup bermanja-manja karena kehendaknya selalu dikabulkan orang tua asuhnya. Kemanjaan itu berakibat buruk kepadanya. Ia lupa diri dan menjadianak nakalpemalas, serta pemboros.
Saudagar Keling sering tercenung seorang diri.
“Firasatku ternyata salah,” katanya dalam hati, “rupanya keadaan lahir belum tentu mencerminkan sifat dan watak seseorang.”
Saudagar Keling merasa tidak mampu lagi menjadi orang tua asuh Angui. Kehadiran Angui dalam keluarga itu hanya menyusahkannya saja. Tidak ada jalan lain yang dapat ditempuh selain mengusir Angui. Saudagar Keling itu tidak mau memeliharanya lagi.
Angui amat menyesali kelakuannya selama ini. Apa dayanya karena sesal kemudian tiada guna. Ia hidup luntang-lantung tiada arah. Kesempatan baik telah disia-siakannya.
Syukurlah, lambat laun Angui mampu mengatasi keputusasaannya.
“Aku harus menjadi manusia yang berhasil,” katanya penuh tekad.
Ia menanggalkan sikap malasnya dan mau bekerja membanting tulang. Ia tidak merasa malu melakukan pekerjaan apa pun, asal pekerjaan itu halal.
Beberapa tahun kemudian, berkat kerja keras dan kejujurannya dalam bekerja, is menjadi seorang saudagar kaya. Kekayaannya tidak kalah dibanding kekayaan saudagar Keling yang pernah menjadi orang tua asuhnya. Ketenarannya melebihi saudagar Keling itu.
Akhirnya, kekayaan Angui melebihi kekayaan siapa pun di negeri Keling itu. Namanya makin terkenal setelah is berhasil menyunting putri raja Keling menjadi istrinya. Sejak menjadi menantu raja, Angui mendapat nama baru, yakni Bambang Padmaraga.
Meskipun sudah kaya, Angui alias Bambang Padmaraga sering terkenang kampung halamannya. Ia amat rindu kepada ibunya, Nini Kudampai. Ia juga teringat pada babi putih, anjing putih, dan ayam putih, ketiga teman bermain yang disayanginya. Selain itu, ia ingin memperkenalkan istrinya kepada ibunya dan menunjukkan keberhasilannya di perantauan. Ia ingin membahagiakan ibunya yang bertahun-tahun ditinggalkannya tanpa berita.
Pada suatu hari, Angui mempersiapkan sebuah kapal yang lengkap dengan anak buahnya. Tidak lupa pula bekal untuk perjalanan jauh dan cendera mata, Inang pengasuh bagi istrinya turut serta dalam pelayaran ke negerinya. Ia dan istrinya menempati sebuah bilik khusus di dalam kapal yang ditata begitu apik seperti dalam sebuah istana.
Berita kembalinya Angui dan istrinya, putri raja Keling, dengan naik kapal segera tersiar ke seluruh penjuru. Nini Kudampai pun mendengar dengan penuh rasa syukur dan sukacita. Apalagi kapal putranya itu konon merapat dan bersandar tidak berapa jauh dari kediamannya.
Nini Kudampai segera berangkat ke pelabuhan dengan menggiring ketiga hewan piaraan teman bermain Angui, yaitu babi putih, anjing putih, dan ayam putih. Ia berharap agar Angui segera mengenalinya dengan melihat ketiga hewan itu.
Nini Kudampai pun berseru melihat Angui berdiri berdampingan dengan istrinya di atas kapal, “Anakku!”
Sebenarnya, Angui mengenali ibunya dan ketiga hewan piaraannya. Akan tetapi, ia malu mengakuinya di hadapan istrinya karena penampilan ibunya sangat kumal. Jauh berbeda dengan ia dan istrinya. Ia memalingkan muka dan memberi perintah kepada anak buahnya, “Usir perempuan jembel itu!”
Hancur Iuluh hati Nini Kudampai diusir dan dipermalukan putra kandung yang dilahirkan dan dibesarkannya. Angui mendurhakainya sebagai ibu kandung. Ibu yang malang itu segera pulang ke rumah. Tiba di rumah, is memohon kepada Yang Mahakuasa agar Angui menerima kutukan.
Belum pecah riak di bibir, begitu selesai Nini kudampai menyampaikan permohonan kepada Tuhan, topan pun mengganas. Petir dan halilintar menggelegar membelah bumi. Kilat sabung-menyabung dan langit mendadak gelap gulita. Hujan deras bagai dituang dari langit. Gelombang menggulung kapal bersama Angui dan istri serta anak buahnya. Kapal dan segenap isinya itu terdarnpar di antara Tambarangan dan Lawahan. Akhirnya, kapal dan isinya berubah menjadi batu.
Itulah sekarang yang dikenal sebagai Gunung Batu Hapu, yang telah dibenahi pemerintah menjadi objek pariwisata. Setiap saat, terutama hari libur, tempat itu banyak dikunjungi orang.

Not Make Others for Fun

Dahulu kala ada seorang saudagar yang kaya raya bernama Kasim. Ia mempunyai rumah yang indah, ternak yang banyak, serta beberapa kapal dagang yang besar-besar.Nama saudagar Kasim juga terkenal oleh karena kebaikan hati putrinya, bernama Fara. Satu hal yang kurang baik pada saudagar Kasim ialah, bahwa dia suka mentertawakan orang lain. Berulang kali Fara memperingatkan ayahnya, tetapi tidak juga didengarnya. Pada suatu hari, ketika saudagar Karim sedang duduk di depan rumahnya, lewatlah seorang perempuan tua yang amat buruk rupanya. Hidung perempuan itu panjang, dan melengkung di tengah. Jalannya terbungkuk-bungkuk, serta lehernya tergoyang-goyang, sehingga matanya yang juling kelihatan semakin buruk. 


Melihat perempuan itu, tak tertahankan lagi tawa saudagar Kasim, hingga perutnya terguncang-guncang karenanya, “Hai, Nek!” serunya sambil tertawa, “Hidung apakah yang kaumiliki itu? Dan mengapa lehermu terus menerus bergoyang? Berilah kawat supaya menjadi kuat. Perempuan tua itu berhenti sebentar, tetapi kemudian meneruskan perjalanannya tanpa menjawab sepatah kata pun. Saudagar Kasim kecewa, sebab orang yang digodanya tidak membalas. 


Karena itu, setiap sore, ia menanti perempuan tua itu lewat, dan mentertawakannya lagi. Pada suatu hari, pada waktu Fara sedang di rumah sendirian, datanglah seorang perempuan muda, mencari pekerjaan. Oleh karena Fara memerlukan pelayan baru, diterimalah orang itu dengan senang hati. Siang itu, pelayan baru menyajikan hidangan yang sangat lezat. Anehnya, sesaat setelah Fara memakannya, ia menjadi lemas, dan akhirnya tidak sadarkan diri. Alangkah terkejut hati saudagar Kasim, ketika dilihatnya Farah yang terbaring di kamarnya. Wajahnya yang cantik jelita itu telah lenyap dan sekarang memiliki wajah yang serupa dengan perempuan tua yang dihinanya setiap sore itu. “Carilah perempuan itu,” tangis Fara, “dan mintalah maaf kepadanya.” Betapa sulitnya mencari seorang perempuan tua di kota sebesar itu. Tetapi saudagar Kasim berangkat juga. Dimasukinya lorong-lorong kampung, dan didengarnya berita-berita yang mungkin menunjukkan di mana perempuan tua itu bertempat tinggal. Ia tidak lagi mempedulikan kekayaan dan perdagangannya. Yang ada di dalam hatinya, hanyalah perasaan menyesal dan dukacita atas nasib yang menimpa putrinya. 


Pada hari yang ke empatpuluh, ketika kakinya sudah bengkak karena terus menerus berjalan, bertemulah saudagar Kasim dengan perempuan tua yang dihinanya dahulu. Ia segera menjatuhkan dirinya ke tanah, serta meminta ampun, serta berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya lagi. “Aku akan mengampuni kamu,” kata perempuan tua itu, “oleh karena Fara berhati baik. Tetapi jika aku mendengar atau melihat engkau mentertawakan orang yang mempunyai cacat tubuh seperti aku ini, maka cacat yang sama akan tertimpa kepadamu.” “Ampunilah saya, Nek,” kata saudagar Kasim sambil menghapus air matanya. “Saya sungguh menyesal, dan berjanji tidak akan menghina orang lain lagi.” Nenek tua itu tidak berdusta. 


Ketika saudagar Kasim tiba di rumah kembali, Fara menyongsongnya dengan sukacita. Wajahnya telah kembali cantik seperti sedia kala. Sejak saat itu, perangai Saudagar Kasim berubah. Ia tidak pernah lagi mentertawakan orang lain. Ditolongnya orang-orang yang timpang dan lumpuh; serta sebagian besar kekayaannya didermakannya kepada orang-orang yang miskin. Saudagar Kasim telah memperoleh upah yang setimpal atas kebiasaannya menghina orang lain yang lemah. Sekarang, ia terkenal sebagai seorang dermawan yang mengasihi sesama. 


Diceritakan kembali oleh Rohyati Solihin
Diambil dari Bobo no.11/Th VII/1979