Sabtu, 05 Desember 2009

History of Christmas Tree


Banyak sekali dongeng mengenai asal usul dari pohon Natal, orang yg tidak berkenan dgn pohon Natal, memberikan dongeng sebagai berikut:

Bangsa Romawi menggunakan pohon cemara untuk perayaan Saturnalia, menghiasinya dengan hiasan-hiasan kecil dan topeng-topeng kecil, karena pada tgl 25 Desember itu adalah tanggal hari kelahiran dewa matahari Mithras yg asalnya dari dewa matahari Iran yang kemudian dipuja di Roma. Selain itu, hari Minggu adalah hari untuk menyembah dewa matahari sesuai dgn arti kata Zondag, Sunday atau Sonntag. Perlu ditekankan di sini bahwa dewa-dewa matahari lainnya juga seperti Osiris, dewa mataharinya orang Mesir, dilahirkan pada tgl 27 Desember. Dewa matahari Horus dan Apollo pada tanggal 28 Desember. Oleh sebab itu, ada aliran-aliran gereja tertentu yang mengharamkan tradisi pohon Natal ini sebab dianggap memuja dewa matahari.

Cerita lainnya lagi ialah: tradisi penggunaan pohon Natal ini berasal dari Martin Luther (1483-1564) yang mempopulerkan pohon Natal di Jerman. Ia begitu berkesan akan keindahan suasana Natal dan bertaburannya bintang di atas pohon cemara di sekitar rumahnya, sehingga ia berusaha untuk mengalihkan suasana Natal ini ke dalam rumahnya dengan cara mendekorasi pohon cemara tersebut menjadi pohon Natal.

Pertama kali pohon Natal tercantum secara tertulis di Elsas pada tahun 1520, sedangkan lukisan tertua yang menggambarkan pohon natal dihias berasal dari tahun 1579. Baru di tahun 1850 pohon Natal itu merambat menjadi tradisi di seluruh dunia. Pohon Natal bukanlah suatu keharusan di gereja maupun di rumah sebab ini hanya merupakan simbol saja agar kehidupan rohani kita selalu bertumbuh dan menjadi kesaksian yg indah bagi orang lain "evergreen".

Pohon Natal (cemara) ini juga melambangkan "hidup kekal", sebab pada umumnya di musim salju hampir semua pohon rontok daunnya, kecuali pohon cemara yang selalu hijau daunnya. Sedangkan perkataan Natal sendiri berasal dari bahasa Portugis yang artinya maulid, kelahiran, seperti dalam istilah Dies Natalis (Hari Kelahiran), adalah satu dari kata-kata, misalnya: sekolah, gereja, keju, mentega, yg kita warisi dari misioner Portugis yang datang ke Indonesia pada akhir abad XV. Sedang kata Christmas berasal dari kata Cristes maesse, frase dlm bhs Inggris yg berarti Mass of Christ (Misa Kristus). Kata Christmas sering disingkat menjadi Xmas. Sebab abjad "X" adalah abjad pertama dlm bhs Yunani untuk nama Kristus (Yesus).

Jumat, 04 Desember 2009

Meja Kayu


Suatu ketika, ada seorang kakek yang harus tinggal dengan anaknya. Selain itu, tinggal pula menantu, dan anak mereka yang berusia 6 tahun. Tangan orangtua ini begitu rapuh, dan sering bergerak tak menentu. Penglihatannya buram, dan cara berjalannya pun ringkih. Keluarga itu biasa makan bersama di ruang makan. Namun, sang orangtua yang pikun ini sering mengacaukan segalanya. Tangannya yang bergetar dan mata yang rabun, membuatnya susah untuk menyantap makanan. Sendok dan garpu kerap jatuh ke bawah. Saat si kakek meraih gelas, segera saja susu itu tumpah membasahi taplak.

Anak dan menantunya pun menjadi gusar. Mereka merasa direpotkan dengan semua ini. “Kita harus lakukan sesuatu, ” ujar sang suami. “Aku sudah bosan membereskan semuanya untuk pak tua ini.” Lalu, kedua suami-istri ini pun membuatkan sebuah meja kecil di sudut ruangan. Disana, sang kakek akan duduk untuk makan sendirian, saat semuanya menyantap makanan. Karena sering memecahkan piring, keduanya juga memberikan mangkuk kayu untuk si kakek.

Sering, saat keluarga itu sibuk dengan makan malam mereka, terdengar isak sedih dari sudut ruangan. Ada airmata yang tampak mengalir dari gurat keriput si kakek. Namun, kata yang keluar dari suami-istri ini selalu omelan agar ia tak menjatuhkan makanan lagi. Anak mereka yang berusia 6 tahun memandangi semua dalam diam.

Suatu malam, sebelum tidur, sang ayah memperhatikan anaknya yang sedang memainkan mainan kayu. Dengan lembut ditanyalah anak itu. “Kamu sedang membuat apa?”. Anaknya menjawab, “Aku sedang membuat meja kayu buat ayah dan ibu untuk makan saatku besar nanti. Nanti, akan kuletakkan di sudut itu, dekat tempat kakek biasa makan.” Anak itu tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.

Jawaban itu membuat kedua orangtuanya begitu sedih dan terpukul. Mereka tak mampu berkata-kata lagi. Lalu, airmatapun mulai bergulir dari kedua pipi mereka. Walau tak ada kata-kata yang terucap, kedua orangtua ini mengerti, ada sesuatu yang harus diperbaiki. Malam itu, mereka menuntun tangan si kakek untuk kembali makan bersama di meja makan. Tak ada lagi omelan yang keluar saat ada piring yang jatuh, makanan yang tumpah atau taplak yang ternoda. Kini, mereka bisa makan bersama lagi di meja utama.