Sabtu, 01 Desember 2012

Mendisiplin Tanpa Kekerasan

Alkisah di negeri tiongkok kuno, tinggallah seorang ayah yang sangat bijaksana, beserta anak lelakinya di suatu desa yang damai. Sang ayah sangat menyayangi anak lelakinya, namun dalam mendidik anaknya sang ayah tidak pernah memarahinya ataupun menggunakan kekerasan.

Pada suatu hari, sang ayah mengajak sang anak ke kota untuk membeli kuda. Mereka pun menumpang kereta kuda dari desa ke kota, karena jarak antar desa ke kota sangat jauh, tanpa merasa lelah, dan sang anak sangat senang karena baru kali inilah dia menuju ke kota.


Sesampainya di kota, sang anak yang begitu gembira terus melihat sekeliling kota, dia menoleh ke kiri dan ke kanan, dan tanpa disadari, dia melihat ada pertunjukkan drama di tengah kota, dan timbullah niat untuk menonton pertunjukkan tersebut. Dia pun memisahkan diri dari ayahnya yang berjalan di depannya menuju ke pasar kota.
Hari sudah semakin siang, sang ayah terlihat panik mencari sang anak kesana kemari, setelah mengetahui anaknya tidak ada di belakangnya. Dia begitu gelisah, semua liku pasar di kota tersebut pun dilaluinya demi mencari anak kesayangannya itu. Akhirnya, dalam kebingungannya, dia duduk di sebuah taman kota di dekat pasar, dengan pandangan kosong. Tanpa disadarinya sang anak yang telah menonton pertunjukan drama pun menghampiri ayahnya. Melihat anaknya datang sang ayah begitu gembira dan berkata :

"Darimana kamu dari tadi nak, ayah menelusuri seluruh pasar ini tapi tidak menemuimu?"
"Saya mengikuti ayah dari belakang, namun karena ayah begitu cepat jalannya, saya pun tertinggal dan tersesat ayah" kata anaknya berbohong.

Sang ayah yang mengetahui anaknya bohong pun tersenyum dan berkata :
"Baiklah, aku sebagai ayah tidak mampu menjagamu, bahkan sampai kamu tersesat, mari kita pulang ke rumah, hari sudah semakin sore. Kamu naikilah kuda yang baru ayah beli, ayah akan berjalan kaki untuk merenungi kesalahan ayah."

Sang anak yang begitu terkejut mendengar jawab sang ayah, bermaksud ingin bicara, namun ayahnya telah berjalan ke depan menuju ke rumahnya di desa. Dalam penyesalannya sang anak melihat sang ayah yang berjalan penuh peluh di mukanya, terus berjalan menuju ke desa, untuk menemani ayah, sang anak memperlambat laju kuda yang dikendarainya.

Berjam-jam sang ayah berjalan menuju ke desa, dan dengan penuh isak tangis sang anak pun turun dari kuda, dan menuntun ayahnya untuk menaiki kuda, sambil berkata:
"Saya tahu saya salah, saya telah berbohong, tolong jangan siksa diri ayah lagi, naiklah ke atas kuda ayah."

Ayah tersenyum sambil memeluk anak kesayangannya itu.

Tidak ada komentar: