Rabu, 28 November 2012

Fokus Pada Kebahagiaan

Seorang ibu memiliki seorang putri yang mulai beranjak remaja. Sang putri sebenarnya seorang anak yang ceria, cerdas dan berbakti kepada orang tua. Tetapi ada satu perilakunya yang sangat mengganggu orang-orang di sekitarnya dan dirinya sendiri, yaitu suka mengeluh atau menggerutu. Sang ibu sudah berkali-kali mengingatkan putrinya untuk menghentikan kebiasaan buruknya, tetapi belum bisa membuat putrinya sepenuhnya sadar.

Suatu hari sang ibu membuatkan sirup markisa yang memang minuman kesukaan putrinya. Saat putrinya baru pulang sekolah, ibu sudah menyiapkan sirup markisa dalam gelas besar lengkap dengan sedotannya.

“Wah segar sekali…terima kasih Ibu….”

“Sirup dan kesegarannya itu adalah simbol kebahagiaanmu anakku…”


Saat sang putri sudah meminum sepertiga gelas, ibu menyuruh untuk menghentikan.

“Coba hentikan dulu anakku…Ini ada jarum yang sudah ibu bersihkan. Tusuklah sedotanmu dengan jarum ini di bagian yang di atas permukaan sirup. Buatlah dua atau tiga lubang di situ…”

Meskipun bingung putrinya menjalankan perintah sang ibu.

“Sekarang minumlah lagi…habiskan sirupmu…”

“Jadi gak enak Bu…Lubang-lubang kecil itu membuat aku sulit menghisap sirup melalui sedotan. “

“Lubang-lubang pada sedotan adalah simbol dari keluhan-keluhan atau gerutuan-gerutuan yang sering kamu lakukan. Keluhan dan gerutuanmu akan mengurangi kebahagiaanmu sendiri. Apakah lubang-lubang di sedotan itu ada manfaatnya?”

“Nggak ada dong Bu….”

“Begitulah dengan keluhan dan gerutuanmu, tidak bermanfaat bagi dirimu sendiri maupun orang lain. Sekarang coba kamu tutup lubang-lubang itu dengan jari-jarimu…”

“Naah sekarang sudah enak lagi Bu….”

“Itulah yang harus kamu lakukan…Tutup mulutmu dengan tanganmu saat kamu ingin mengeluh atau menggerutu, agar tidak mengurangi kebahagiaanmu. Seperti saat minum kamu hanya menggunakan lubang utama sedotan, kamu harus selalu fokus pada kebahagiaanmu…”

Tidak ada komentar: