Sabtu, 13 Oktober 2012

Mengapa Kura-kura Berjalan Lambat?

Di sebuah kerajaan hutan, hiduplah para hewan dengan aman dan damai. Pemimpin mereka adalah Siga si Raja Hutan yang adil dan bijaksana. Wah, kebetulan hari ini adalah ulang tahun Raja Siga. Semua warga hutan sedang mempersiapkan pesta besar! 

”Selamat pagi, Bu Mia Kucing. Ini undangan untuk hadir di pesta ulang tahun Raja Siga. Permisi.” Raku si Kura – Kura langsung melesat pergi secepat angin setelah menyerahkan undangan ke Mia si Kucing. ”Uh Raku, belum sempat aku ucapkan terima kasih, dia sudah pergi jauh. Memang cocok sekali Siga si Raja Hutan menyuruh Raku untuk menyebar undangan. Larinya kan cepat sekali.” Ujar Mia si Kucing. 

Memang dahulu kala, kura – kura itu larinya cepat sekali. Bahkan lebih cepat daripada anjing dan kucing. Nah, ketika malam menjelang, seluruh penghuni hutan mulai berdatangan ke rumah Siga si Raja Hutan. Mereka semua memakai pakaian yang bagus dan mewah. ”Wah, pestanya meriah sekali ya, Jian Anjing.” Mia si Kucing berkata kepada Jian si Anjing. ”Kau benar, Mia Kucing. Semua tampak bergembira dan bersenang – senang.” jawab Jian si Anjing. 

”Eh, kau membawa kado ya untuk Raja? Taruh saja di meja besar itu, semua kado disimpan di situ.” tanya Mia si Kucing kepada Jian si Anjing. ”Oh begitu ya? Baiklah, akan kusimpan dulu kado ini supaya tidak pecah. Aku akan mempersembahkan mangkok kristal ini untuk raja.” Jian si Anjing berkata sambil meletakkan kadonya di atas meja besar. ”Wah bagus sekali mangkok itu, Jian! Raja pasti suka!” ujar Mia si Kucing. 

Dari kejauhan tampak Raku si Kura-Kura mendekat ke pesta. Tapi karena seharian ia sibuk menyebarkan undangan, ia tak sempat lagi berganti pakaian. Langsung saja ia datang ke pesta ulang tahun itu. ”Ooo ya ampun…semua tamu berhias dengan sangat rapi. Semua terlihat rupawan. Sedangkan aku? Aku tak memakai baju yang pantas, aku juga tak memakai perhiasan apapun.” Raku si Kura – Kura berkata dalam hati. 

Raku si kura-kura merasa tak pantas datang ke pesta dengan penampilan seperti itu. Raku langsung bersembunyi di balik meja besar tempat penyimpanan kado. Nah, di sana ia melihat sebuah mangkok kristal yang bagus sekali. ”Wah, mangkok ini bagus sekali. Bisa jadi perhiasan yang cocok untukku! Tapi ini kan kado untuk Siga si Raja Hutan….ah tak apa lah, dia sudah dapat begitu banyak kado. Dia kan tak boleh serakah..hehehehe.” Raku si Kura – Kura berkata dengan nada licik. 

Maka Raku si kura-kura pun membawa mangkok kristal itu ke balik semak-semak. Ia mengoleskan getah daun yang berwarna kehijauan ke atas mangkok itu, kemudian mengikat mangkok itu ke punggungnya. ”Ah, mangkok ini lebih cantik dalam warna hijau. Dan akar-akar kayu ini cukuplah kulilitkan di tubuhku supaya mangkok ini tak jatuh dari punggungku.” ujar Raku si Kura – Kura sambil mengagumi dirinya. 

Maka Raku berjalan dengan gagah ke tengah pesta. Dan benar saja, semua mata melihat kagum padanya. ”Waaah Raku gagah sekali dengan perhiasannya itu..kemilaunya seperti zamrud! Indah sekali kan, Jian?” Mia si Kucing berkata sambil terus memandangi Raku si Kura – Kura. ”Iya..indah sekali tapi aku yakin sekali itu adalah mangkok kristalku..ah aku harus langsung bertanya pada Raku.” Jian si Anjing berkata dalam hati dan akhirnya berkata kepada Raku si Kura – Kura, ” Hei Raku! Darimana kau dapatkan perhiasan itu?” 

”Oh ini memang milikku. Aku membawanya dari rumah.” kata Raku si Kura – Kura. ”Ah kau bohong! Aku mengenali mangkok itu, itu milikku yang akan kuberikan pada Siga si Raja Hutan!” Jian si Anjing berteriak ke Raku si Kura – Kura. 

Akhirnya Siga si Raja Hutan pun datang menghampiri mereka dan berkata, ”Ada apa ini? Siapa yang berani membuat keributan di pestaku?”, Jian si Anjing menjelaskan ke Siga si Raja Hutan, ” Maafkan hamba, baginda. Tapi Raku si kura-kura telah mencuri mangkok kristal yang akan kuhadiahkan padamu.” 

”Benarkan itu Raku?” Siga si Raja Hutan bertanya langsung ke Raku si Kura – Kura. ”Eh…hmmm..eeeeh…benar Yang Mulia…aku malu karena tidak punya perhiasan atau baju yang indah untuk datang ke pestamu…maafkan aku.” dengan nada gugup Raku si Kura – Kura akhirnya mengaku telah mengambil kado Siga si Raja Singa. 

”Hhh…baiklah…Jian, aku tahu mangkok itu akan kau hadiahkan padaku, aku menghargai itu, tapi tampaknya memang lebih cocok untuk Raku..” dengan bijak Siga si Raja Hutan berkata. Raku si Kura – Kura mengucapkan terima kasih kepada Siga si Raja Hutan, ” Oh terima kasih, Yang Mulia, terima kasih.” 

”Tapi sebagai gantinya, kemampuan lari cepatmu akan kuberikan pada Jian Anjing. Bagaimana? Adil, bukan?” Siga si Raja Hutan akhirnya berkata.

Nah, sejak saat itu Raku kura-kura dan keturunannya memiliki mangkuk keras di punggungnya dan tetap berjalan lambat. Sementara itu, bangsa anjing sampai kini bisa berlari cepat. Dan terbiasa mengejar pencuri seperti Jian, nenek moyang mereka.

Tidak ada komentar: