Senin, 15 Oktober 2012

Berkah Kejujuran

Di sebuah desa yang terpencil, tersebutlah seorang petani tua bernama, Kalinda. Kalinda hidup sangat sederhana. Sehari-hari ia hanya mengandalkan kemampuannya mencangkul untuk membantu menggarap sawah orang lain. Keadaan Kalinda sebenarnya serba kekurangan, tapi ia tak pernah mengeluh. Ia bekerja dengan riang gembira. Satu-satunya harta Kalinda yang paling berharga adalah cangkulnya. Karena dengan cangkulnyalah Kalinda dapat mencari makan untuk sehari-hari.

”Wah...hari ini aku menggemburkan tanah dan menanam cukup banyak padi. Semoga imbalannya cukup untuk aku makan sampai esok....Hhh...melelahkan juga...mungkin ada baiknya aku beristirahat di dekat kali sebentar.” Kalinda berkata dalam hati. ”Aah...nyaman sekali di sini...rimbun dan sejuk...cocok sekali untuk beristirahat setelah seharian di sawah...” Kalinda berkata sambil bersantai di pinggir kali.

Kalinda pun tertidur. Namun tidak lama kemudian ia terbangun karena mendengar suara gemerisik dedaunan. Karena terlalu kaget, Kalinda tidak sengaja menggulingkan cangkulnya! Oh, cangkul menggelinding di pinggir kali yang landai itu dan....cangkulnya tercemplung ke dalam kali!

”Ya ampun, aku tak sengaja menendang cangkulku sendiri! Aduuh, bagaimana ini, cangkulku tenggelam dan aku tak bisa berenang! Apa yang harus kulakukan?” Kalinda kebingungan sekali. Ketika Kalinda sedang kebingungan, tiba-tiba muncul lah seorang anak muda yang tampan dan gagah perkasa, ”Hai, pak petani yang baik. Mengapa wajahmu murung begitu?”

”Ah, tidak anak muda...hanya saja...cangkulku tenggelam di kali...dan aku sudah terlalu tua untuk menyelam...padahal itu satu-satunya cangkulku.” Kalinda berkata pada sang pemuda. ”Oh, begitu. Bagaimana kalau aku coba mengambilkannya untukmu?” sang pemuda mencoba menawarkan. ”Apakah benar kau mau melakukan itu untukku, anak muda? Wah, aku sangat berterima kasih, sangat-sangat berterima kasih!” Kalinda berkata dengan gembira.

Maka pemuda itu langsung saja menceburkan diri ke dalam kali. Tak lama kemudian, pemuda itu muncul di permukaan dengan mengacungkan sebuah cangkul emas, ”Apakah ini cangkulmu, Pak Petani?” teriak sang pemuda. ”Bukan...itu bukan milikku. Tak mungkin aku memiliki cangkul dari emas. Kembalikan saja ke dasar kali.” Kalinda berteriak kebingungan.

Pemuda itu pun kembali menyelam mencari cangkul si petani. Tak berapa lama ia muncul kembali dengan membawa sebuah cangkul perak, “Ah, ini pasti cangkulmu! Betul kan, Pak?” sang pemuda kembali berteriak dari kali. “Maafkan aku anak muda, tapi cangkul perak itu bukan milikku. Cangkulku itu sudah tua dan berkarat.” Kalinda menjawab. “Baiklah, akan kucari lagi.” Sang pemuda berkata sambil menyelam kembali ke dalam kali.

Setelah beberapa waktu, pemuda itu muncul lagi membawa cangkul yang sudah tua dan berkarat. “Nah! Ini baru cangkulku! Terima kasih banyak, anak muda. Maaf aku tak bisa memberikanmu imbalan kecuali ucapan terima kasih yang tak terhingga.” Kalinda berkata pada sang pemuda.

“Kalinda, dengarkan aku....aku sebenarnya adalah dewa sungai. Kau telah melewati uji kejujuran. Aku bangga padamu Kalinda, walaupun kau hidup serba kekurangan, kau tetap jujur dan tidak mau mengakui hak yang bukan milikmu.” Tiba – tiba saja sang pemuda berkata. Kalinda pun kaget tak menyangka sama sekali. “Kau adalah petani yang baik hati. Sebagai hadiah atas kebaikan dan kejujuranmu, ambillah cangkul emas dan cangkul perak ini. Gunakan untuk hal-hal yang baik. Sampai jumpa lagi, Kalinda.” Sang pemuda berkata sambil memberikan kedua cangkul tersebut kepada Kalinda.

Kalinda terpana melihat Dewa Sungai tiba-tiba menghilang. Di hadapannya kini telah tersedia satu cangkul emas dan satu cangkul perak. Maka Kalinda pulang ke rumahnya membawa dua cangkul ajaib itu. Yang perak segera dijualnya untuk membeli sawah sendiri, sedangkan yang emas ia gunakan untuk mencangkul. Konon, hasil sawahnya selalu bagus dan memuaskan, jadi Kalinda tidak perlu lagi hidup kekurangan.

Tidak ada komentar: