Jumat, 24 Oktober 2014

Kurcaci Berkaki Raksasa


Di dunia kurcaci, jarang ada kurcaci berkaki super besar sepertinya.
 
Ruben harus duduk di bangku khusus di depan kelas, karena kakinya tak cukup di bawah meja.
 
Ruben juga tak bisa bermain lompat tali, atau mengejar kunang-kunang.
 
Para tetangga pasti akan berteriak, “Berhentilah lari, Ruben si kaki raksasa ! Anak-anak kecil ketakutan mendengar bunyi kakimu!”

Ruben sering sedih memikirkan kakinya yang besar.
“Jangan sedih kalau diolok-olok temanmu, Nak,” hibur ayahnya, yang  mengerti perasaan putranya. “Daripada melamun, lebih baik Ayah ajari membuat sepatu ya?”
 
Ayah Ruben memang seorang pembuat sepatu. “Berarti aku sudah boleh menggunakan gunting dan pisau, yah?” tanya Ruben gembira.
 
“Juga boleh memakai palu, paku, jarum dan benang,” sahut Ayah tersenyum. “Kau sudah cukup besar untuk mencobanya."
 
Hari-hari berikutnya, Ruben mulai belajar membuat sepatu. Ia mengukur kakinya sendiri dengan tali dan mencatatnya. Ayah membuat pola kaki Ruben di selembar karet sepatu dan kain berserat kasar.
 
Dengan hati-hati Ruben menggunting karet dan kain tersebut. Ups! Masih ada bagian yang miring! Tapi menurut ayahnya, hasilnya lumayan bagus untuk pemula.


Ruben lalu mengelem semua bagian karet dan kain yang sudah dipotong-potong. Kemudian dijahit. Sedikit demi sedikit bentuk sepatunya mulai terlihat, sampai akhirnya selesai juga.

Wow! Ruben gembira melihat hasil pekerjaannya sendiri! Ruben mencoba memakainya. Ia tertawa karena ternyata sepatu kirinya lebih kecil daripada yang kanan.
 
“Wah, aku bukan tukang sepatu yang baik ya, Yah?” serunya geli. Ayah tersenyum.
 

“Dengan semangatmu itu, kau pasti bisa jadi tukang sepatu yang baik.”
 
Esoknya Ruben mencoba memakai sepatu barunya. Namun teman-temannya malah semakin mengoloknya.
 
“Hei lihat! Ruben memakai sepatu aneh! Sepatunya besar sebelah, hahaha!” ejek Lucius, kurcaci pendengki. Ruben sedih dan marah. Ia berlari ke hutan dan membuang sepatunya.
 
“Kenapa teman-teman selalu mengejekku?” teriaknya kesal. “Bukan salahku kalau punya kaki besar. Aku tak pernah nakal pada teman-temanku. Kenapa mereka tak mau berteman denganku?”
 
Mendadak dari balik pepohonan terdengar suara-suara. “Siapa yang melempar sepatu sebesar ini? Sepatu siapa sih?”
 
“Aduh, kepalaku sakit. Mana orang yang melempar sepatu ini?” Ruben kaget. Olala! Ada yang terkena lemparan sepatunya. Ruben ingin lari, tapi hati kecilnya melarang. Ia harus belajar bertanggungjawab.
 
Tiba-tiba dari balik pepohonan muncul satu per satu kurcaci berkostum meriah. Ternyata mereka adalah kurcaci sirkus yang biasa berkeliling ke pelosok negeri.
 
Hari itu mereka baru tiba di daerah tempat tinggal Ruben.  Kurcaci terdepan membawa sepatu Ruben sambil mengusap kepalanya.
 
“Kau yang melempar sepatu ini?” ia meringis nyeri. Ruben mengangguk. “Kakimu besar,” kata kurcaci itu lagi, “Apa sepatu ini milikmu?”
 
“I…iya… Itu sepatu milik saya, Tuan. Maafkan saya Tuan. Tadi saya … eh… sedang marah, dan tak sengaja melemparnya…”
 
“Siapa yang membuat sepatu ini?” potong si kurcaci tanpa mempedulikan permintaan maaf Ruben. “Bisa kami bertemu dengannya?”
 
Ruben tercengang. Aneh sekali, kurcaci sirkus itu tak memarahinya. Tapi ia menjawab juga, “Euh…saya sendiri yang membuat sepatu itu, Tuan. Memang jelek sekali. Saya tahu. Saya baru belajar dari Ayah saya…kemarin beliau…”
 
“Kau sendiri yang membuatnya?” si kurcaci sirkus tampak terkesan. “Kau berbakat, Nak. Ini kebetulan sekali. Sangat jarang ada tukang sepatu khusus ukuran besar. Kebetulan kami sedang membutuhkan sepatu baru.”
 
Ruben baru sadar kalau semua kurcaci itu berkaki sangat besar! Seperti dirinya! Kurcaci-kurcaci sirkus itu meminta Ruben untuk membawa ayahnya ke perkemahan sirkus.
 
Dengan gembira Ruben memberitahu ayahnya. Berdua mereka membawa berbagai perlengkapan membuat sepatu ke perkemahan sirkus di tengah hutan.

 
Ruben kini tahu, ternyata banyak kurcaci berkaki besar yang hidup di bagian lain bumi. Kurcaci penjinak singa berkata, kurcaci berkaki besar biasanya memiliki darah seni.
 
“Lihat sirkus ini! Penuh kegiatan seni menghibur orang, bukan? Meski kami berkaki besar, tak menghalangi kami untuk berlatih. Membuat sepatu juga membutuhkan sentuhan seni, Nak. Sepatu buatanmu unik. Tak semua orang bisa melakukannya.”
 
Ruben senang mendengarnya. Apalagi ia dan ayahnya mendapat kesempatan menonton gratis pertunjukan sirkus di kota mereka.
 
Betapa kagetnya teman-teman Ruben saat melihat bahwa semua kurcaci sirkus berkaki besar.
 
Apalagi waktu mendengar kata-kata sang pembawa acara, “Selamat datang! Semoga pertunjukkan kami memuaskan Anda semua. Tak lupa kami ucapkan terima kasih pada Ruben dan ayahnya!”
 
Wajah Ruben berseri-seri. Ia tak sedih lagi berkaki raksasa.

Tidak ada komentar: